Kilas Balik 2016

Sebenarnya cukup banyak kegiatan menarik tim Samurti yang terjadi beberapa bulan terakhir 2016. Tetapi sayangnya belum sempat tercatat di blog dikarenakan kesibukan para anggota. Ya, para anggota kami adalah pekerja muda dan mahasiswa yang tinggal di Jabodetabek dengan mobilitas yang cukup tinggi. Cerita yang cukup update berasal dari media sosial kami seperti Instagram, tiap gambar yang diupload mewakili ungkapan barisan kalimat yang tidak tertulis.

Dokumentasi itu penting untuk menunjukkan eksistensi akan suatu  hal. Berikut kami tampilkan kilas balik hal-hal yang terjadi mulai pertengahan 2016 ini, monggo disimak..

Syukuran Menyambut Kedatangan Bulan Suci Ramadhan

5 Juni 2016, tim Samurti menyelenggarakan syukuran kecil-kecilan dengan mengundang pemilik lokasi gamelan, eyang Nani Soedarsono. Sebagai wujud rasa syukur kami juga menghidangkan dari dan untuk tim Samurti penganan ala-ala yaitu 2 ekor ingkung ayam, nasi kuning, beserta lauk pauk.

menyambut Ramadhan.jpg
pelatih eyang Har (kiri) dan pemilik lokasi gamelan eyang Nani (kanan)

Turut Berduka Cita

Senin pagi yang cerah, 26 Juli 2016, pelatih kami pak Giono mengabarkan kepada kami via pesan singkat sebuah kabar duka. Minggu, pkl 21.00 WIB waktu Bogor, ibu Sartini Fatmawati yang akrab dipanggil ibu Tini meninggal dunia dalam usia yang masih sangat muda, 44 tahun karena penyakit kanker dan paru-parunya. Kami sangat terkejut menerima kabar tersebut. Beliau dikebumikan di kediamannya di Parung, Bogor.

Pertama dan terakhir kali almarhumah ibu Tini pentas bersama tim Samurti (artikelnya bisa dilihat di Pentas di Event Perusahaan ). Untuk pentas kami saat itu, ibu Tini berjuang menembus kemacetan Jakarta dari tempat bekerjanya di RS Fatmawati ke Sudirman. Beliau juga tak segan membantu anggota kami Icha, dengan riasan dan meminjamkan kebaya miliknya agar kami terlihat kompak untuk pentas tersebut.

Saat pentas bersama itu almarhumah dalam kondisi yang sangat sehat walafiat. Beliau sangat ramah dan sifatnya mengayomi kami.

_______

di Minggu pagi yang cerah juga, 31 Juli 2016, di latihan perdana kami setelah 1 bulan liburan. sebuah pesan masuk di Whatssapp grup kami dari nomor Whatssapp atas nama mbak Dian.

“saya mewakili mbak Dian meminta maaf jika pernah ada salah,

mohon doanya agar mbak Dian tenang di sisi Allah, semoga diberikan tempat yang indah…aamiin”

pesan tersebut dikirimkan oleh adik perempuannya. Almarhumah mbak Dian meninggal dalam usianya yang masih sangat muda juga, sekitar 30an tahun karena penyakit kanker di anusnya pada Sabtu, 30 Juli 2016 pkl. 22.00 dan dikebumikan di kampung halamannya di Jatilawang, Banyumas, Jawa tengah.

mbak Dian 2.jpg
Foto terakhir mbak Dian (kiri – kemeja hitam), satu minggu sebelum latihan terakhirnya bersama tim Samurti

kira-kira 1 minggu sebelum latihan terakhirnya, mbak Dian sempat berjalan-jalan bersama kami ke museum Wayang, kawasan Kota Tua Jakarta. Acara tersebut untuk memenuhi undangan salah satu pelatih kami, mas Sandy yang pentas mengiringi dalang cilik.

Latihan terakhir mbak Dian di pendopo Duren 3 bermain saron menjelang akhir tahun 2015. Salah satu anggota, mas Kiwang, saat itu mengatakan bahwa mbak Dian terlihat sangat pucat dan beliau pulang latihan rutin tim kami lebih awal ke rumahnya di daerah Jakarta Barat. Beberapa minggu kemudian beliau mengabarkan pulang ke kampung halaman untuk melakukan pengobatan sampai akhir hayatnya disana. Selain saron, vokal perempuan juga dicobanya karena tertarik untuk menekuni sinden. Kepada pengurus, karena kekagumannya beliau pernah memperdengarkan rekaman Mayangsari yang menyanyikan lagu Yen Ing Tawang.

Selamat jalan ibu Tini..

Selamat jalan mbak Dian..

Spirit berkesenian mereka yang luar biasa selalu ada bersama tim Samurti..

innalillahi wainnalillahi rojiun.. teriring doa dari tim Samurti semoga para almarhumah diberi tempat terbaik di sisi Tuhan YME dan keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan, amin..

Acara Halal Bihalal ke rumah pelatih kita

Terimakasih bagi teman-teman yang telah mengikuti napak tilas perjalanan salah satu pelatih kita, pak Giono dari Duren 3 dan berkunjung ke rumahnya di Pondok Aren, Tangerang Selatan pada Minggu 31 Juli 2016.

1,5 jam perjalanan dibutuhkan bapak pelatih untuk berangkat ke Duren 3 dan rute yang cukup macet. Sedikit uang kas dari teman-teman dibuatkan dan dibelikan penganan untuk buah tangan bagi keluarga bapak.

Sepanjang perjalanan berangkat, beberapa anggota yang sempat tersasar dan macet akibat pembangunan jalan layang butuh waktu 2,5 jam dari lokasi latihan ke tujuan. Sepulangnya dari sana, masih juga terjebak macet di Minggu sore yang cerah. Tetapi hal tersebut tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan pelatih kami yang dengan kesabarannya setiap minggu pagi berangkat dan pulang di siang hari yang terik, demi melatih dan memberi semangat  kami para anak muda a melestarikan kebudayaannya

DSC_7512.jpg

pak Giono (tengah – baju ungu) menerima kedatangan tim Samurti dirumahnya di Pondok Aren, Tangerang

Terimakasih untuk segala bentuk dukungan teman-teman untuk pelatih kita ini. Pak Giono akhirnya bisa datang kembali melatih. Diawal kembalinya, beliau sempat belum bisa mengemudikan sepeda motor sendiri lagi dengan nyaman setelah insiden kecelakaan mobil beberapa waktu lalu. Kini kondisi beliau semakin membaik dengan rutinnya beliau mengikuti fisioterapi di daerah Cikeas, Bogor.

Iklan